Berita Hangat :
Share

Ekstrem ! Turun dari Gunung Slamet dengan Sepeda

Posted by Fauzan Ramadhani Monday, December 3, 2012 0 Komentar
Ekstrem ! Turun dari Gunung Slamet dengan Sepeda - Gunung Slamet Banyumas - Malam ini saya mau share artikel dari daerah saya sendiri nih, hehe .  Barangkali terbilang nekat. Namun untuk yang gila bersepeda, menuruni lereng Gunung Slamet dari ketinggian 2.000 mdpl dengan sepeda gunung adalah kegiatan menantang otot dan belajar menundukan rasa takut. Senin, 03/12/2012, Sebanyak sebuah kelompok yang terdiri dari 15 orang memiliki niat untuk Menuruni Gunung Slamet dengan Sepeda.

Dari Jakarta, kami yang berjumlah 15 orang menyewa sebuah bus besar berukuran 52 tempat duduk. Hanya sebagian kecil kursi yang dipergunakan. Sebab sisanya untuk menangkringkan 15 sepeda kesayangan kami. 

Kami cukup beruntung karena sebuan perusahaan BUMN memberi sponsor bus sehingga tidak perlu membayar. Oiya, roda -roda sepeda sudah dipreteli terlebih dahulu. Roda dimasukan ke bagasi bus yang super lega. Tinggallah kerangka sepeda jenis All Mountain (AM) yang duduk manis di belakang.



Setelah 8 jam perjalanan, kami sampai di Bumiayu, Jawa Tengah. Tepatnya di rest area Sakalibels, sekitar 5km dari pusat kota. Rest area ini biasa penuh bila musim mudik lebaran. Namun saat kami kesana Sabtu (1/12/2012) suasananya cukup lengang. Hanya 3 hingga 5 bus malam yang mampir beristirahat.

Di rest area ini pula 3 teman kami sudah menunggu. Seorang menggunakan mobil pribadi ke sini. Sementara 2 yang lain naik kereta api Purwojaya dari Stasiun Gambir dan turun di Stasiun Bumiayu.

Saat itu tepat pukul 07.00 WIB pagi kami disambut matahari cerah yang masih hangat. Menurut pemandu warga lokal, kami cukup beruntung. Sebab 3 hari sebelumnya hujan berturut-turut sepanjang hari. 

"Artinya yang datang ini orangnya baik-baik," kata Haris, seorang pemandu lokal dengan logat Banyumasan yang kental.

Usai meregangkan otot sebentar, sepeda diturunkan dan dipindahkan ke mobil pick up. Mobil ini sudah didisain sebegitu rupa sehingga dapat membopong sepeda gunung kami. Sebab kami masih harus naik menggunakan mobil pick up tersebut ke ketinggian 2.000 meter di atas permukaan laut (mdpl). Tepatnya di ketinggian 2.050 mdpl.



Tepat pukul 09.00 WIB kami mulai meninggalkan rest area menuju tempat start yakni Puncak Sakub. Menurut pemandu, jaraknya 31 km dengan jalanan menanjak melewati perkampungan, hutan pinus, pertanian sayur dan yang paling cantik saat mengiris perkebunan teh di kawasan Agrowisata Kaligua, Bumiayu, Brebes, Jawa Tengah.

Panorama yang tersaji benar-benar apik. Terlihat hamparan lembah hijau dan anak -anak sekolah yang menyapa, betul-betul membuat kami bersemangat. Juga hamparan kebun teh yang sangat hijau dan dilindungi habitatnya karena masuk lokasi hutan lindung. Bisa dibilang, travel adventure kali ini nyaris tanpa cacat selain kendala satu dari dua mobil yang kami tumpangi sempat mogok.


Setelah 2 jam melewati view yang sangat Indonesia, akhirnya kami sampai di Puncak Sakub. Puncak tertinggi di kawasan Bumiayu ini berada di sebelah utara Gunung Slamet. Bila memandang berkeliling maka yang terlihat perbukitan hijau kebun teh maupun pertanian sayur mayur. Terdapat sebuah posko di puncak Sagub tempat para penggowes bersiap sebelum memulai start.

"Awalnya kami kami ini yang membuat track buat sepeda. Kami buat jalan dengan naik motor trail. Sekarang track sepeda tidak boleh dilewati sepeda motor karena akan merusak jalan sepeda," ucap Haris menunjukan rambu-rambu track sepeda.

Saat jarum jam menunjuk 11.30 WIB kami memulai start. Track pertama yang ditawarkan berupa jalan tanah sedikit licin yang curam dengan lebar 50 cm. Kemiringannya sekitar 30 derajat. Satu persatu pesepeda meluncur ke bawah. Mata terlihat konsentrasi dan tangan memegang erat stang kemudi. Sementara pantat berusaha menyeimbangkan posisi tubuh supaya tidak terpuruk ke tanah yang gembur.

"Trek disini belum lama baru sekitar dua tahun. Tetapi sudah ramai. Tiap akhir pekan selalu ada tamu main di sini," imbuh Haris.

Dalam setiap trip untuk satu rombongan, fasilitator trip lokal yang tergabung dalam komunitas Generasi Muda Bumiayu (Gemuyu - singkatan yang dalam bahasa Indonesia berarti tersenyum) menyediakan beberapa pemandu. Pemandu yang menyebut diri sebagai Marshal akan memberi peta track supaya tidak nyasar. Mereka pula yang bertugas mengevakuasi bila terjadi kecelakaan saat bersepeda.

"Belum ada kecelakaan luka parah. Pernah luka ringan saja karena kecapean dan tergelincir. Kalau tetap fokus, tidak akan ada apa-apa," ucap Haris yang juga merupakan seorang Marshal yang sangat cekatan menuruni turunan tajam dan licin.

Track berikutnya merupakan track jalan berbatu yang landai namun cukup panjang. Sepeda mampu meluncur hingga kecepatan 40 km/jam. Track lantas berganti dengan turunan kebun teh, ladang jagung, hutan pinus, ditengah pertanian kol, tomat dan persawahan.

Semua jalan tidak ada yang mulus, sebagian besar merupakan jalan setapak, licin dan penuh lobang. Beberapa track di tengah sawah melewati pematang dengan kondisi berlumpur semata kaki.

Sebagian di antara kami jatuh terduduk atau terperosok. Sebagian lagi berguling guling di tengah ladang jagung di tebing yang curam mencapai kemiringan 40 derajat. Pun demikian banyak juga dari kami yang sudah berpengalaman melewatinya dengan ringan. Memotong lobang dan menuruni bukit super licin dengan sempurna tanpa jatuh terjerembab.

"Tracknya sangat menarik. Variatif. Tidak membosankan," kata seorang peserta Fauzi.

Tantangan terakhir dari 6 jam menuruni bukit 2.000 mdpl ini yakni melintasi Sungai Bumiayu. Sebab, saat kami melintas arusnya cukup kencang. Sepeda harus kami panggul dan kaki perlu menapak kuat-kuat supaya tidak terbawa arus sungai. Banyak di antara rombongan terjatuh namun segera diselamatkan hingga tidak terbawa arus.

Saat matahari mulai gelap, akhirnya kami kembali di rest area Sakalibels. Kami melihat jarum jam dan ternyata kami telah menghabiskan waktu 6 jam (termasuk waktu istirahat 1 jam) untuk menuruni lereng Gunung Slamet itu. Rasa pegal, lelah dan capek serta ngilu seperti digebuki orang se-RT sangat terasa. Namun semua seperti imajiner bila mengingat keindahan alam lereng Gunung Slamet dan travel adventure yang telah dilewati. Sampai-sampai banyak dari kami ketagihan untuk menjajal ulang track mempesona tersebut.

Tips Mountain Bike di Kaligua, Bumiayu:

  1. Pastikan kondisi tubuh benar-benar fit.
  2. Dari Jakarta, dapat menyewa kendaraan atau menggunakan kendaraan pribadi. Jasa kereta api juga bisa dimanfaat dan turun di stasiun Bumiayu. Dari situ bisa kontak fasilitator lokal yang akan menjemput hingga ke trek tujuan.
  3. Bila ingin menginap, terdapat hotel bertarif standar Rp 125.000/malam yang berlokasi di tengah kebun teh. Hotel dijamin bersih dan nyaman. Tidak jauh dari hotel terdapat pabrik teh 'Black Tea Kaligua' yang telah berproduksi sejak zaman Belanda. Anda bisa melihat langsung proses produksi teh dari dipetik hingga siap dikemas. 
  4. Bawalah sepeda jenis sepeda gunung All Mountain (AM) atau yang sejenis dengan ciri-ciri pegas di shock depan dan belakang. Juga jenis roda yang tepat.
  5. Pergunakan alat pengaman maksimal saat bersepeda seperti helm dan body protector di siku dan dengkul. Juga kacamata serta sarung tangan plus sepatu.
  6. Ikuti arahan dari Marshal mengenai rute dan intruksi keselamatan.
  7. Meluncurlah dengan berani, cepat dan hilangkan rasa takut sebisa mungkin. Tetap fokus, konsentrasi serta nikmati sensasi di alam bebas ini.

0 Tanggapan Untuk “Ekstrem ! Turun dari Gunung Slamet dengan Sepeda”

Pembaca yang baik selalu meninggalkan jejak ...

Komentar Terbaru

Artikel Terbaru