Berita Hangat :
Share

Kisah Sang Beruang Kutub Menghadapi Global Warming

Posted by Fauzan Ramadhani Thursday, January 17, 2013 0 Komentar
Menurut pernyataan dari Lembaga Survei Geologi Amerika Serikat (USGS, dua per tiga populasi beruang Kutub akan punah pada pertengahan abad 21. Dalam beberapa dekade Kutub Utara (Artik) akan kehilangan lapisan es yang sangat besar. Para ahli bahkan memperkirakan bahwa 40 persen habitat beruang Kutub akan musnah pada tahun 2050


Setelah beberapa bulan dari musim dingin, musim semi pun dimulai, seiring hari berlalu, matahari semakin beranjak ke atas langit.


Dan sinar matahari lebih terasa menyinari Benua Arktik dibanding sebelumnya. Kehidupan barupun dimulai.


Anak-anak beruang kutub mulai keluar dari lubang tempat mereka dilahirkan.


Induk mereka meregangkan kaki-kakinya setelah lima bulan berada didalam lubang salju.


Usia mereka baru sekitar 2 bulan dan secara naluri akan mengikuti induknya.


Ini mungkin terlihat menyenangkan, tapi ini adalah latihan serius untuk masa depan mereka.


Tidak tersedia makanan disini, maka keluarga beruang harus pergi ke seberang lautan beku dan menemukan makanan, sebelum susu induk mereka kering karena kelaparan.


2 Minggu kemudian mereka telah siap. Sang induk akan berburu anjing laut sementara berusaha agar anak-anaknya tetap selamat. ini membutuhkan seluruh kemampuan sang induk beruang.


Siklus pencairan es tahunan sudah dimulai.


Ini adalah waktu yang sulit bagi keluarga beruang. Satu dari tiap 2 anak beruang tidak dapat bertahan dalam tahun pertama mereka menghadapi es.



Saat sengatan matahari bertambah, lautan es sepertinya punya kehidupannya sendiri.


Air gletser datang dari daratan, berbaur dengan air laut.




Dan mempercepat proses pencairan es.


Es menjadi terlalu rapuh untuk menopang seekor beruang jantan.


Dia mencoba menyebar berat badannya dengan cara melebarkan pijakannya.


Namun es yang seharusnya menopangnya selama musim dingin secara cepat hancur.


Setiap tahun iklim menjadi lebih hangat, tetapi banyaknya es menjadi semakin sedikit. Ini tentunya menjadi bencana bagi beruang kutub.


Tanpa pijakan yang kuat, mereka takkan bisa berburu anjing laut yang mereka butuhkan agar selamat.


Ini mungkin adalah sekilas pandangan masa depan yang tak stabil, yang harus dihadapi makhluk luar biasa ini.




Berkali-kali beruang ini terjatuh ke air es karena es yang dipijaknya hancur tak bisa menahan beban tubuhnya.



Dunia es sang beruang kutub jantan akhirnya menghilang.



Dia menuju lautan untuk mencari makanan agar dapat bertahan hidup.





Berenang hingga menyelam dengan harapan bisa menemukan anjing laut sedang beristirahat di atas pecahan es yang tersisa.



Di lingkungan yang baru ini, dia harus beradaptasi menjadi perenang handal.


Pemandangan yang sangat langka, baru-baru ini beruang kutub terlihat sejauh 60 mil dari pantai. Sekarang tidak ada kata kembali bagi beruang ini.


Dia dipaksa menuju perairan lebih dalam.



Tampaknya dia menyukai saat-saat berada di lautan.


Namun dia akan tenggelam bila tak menemukan daratan di lautan yang luas ini.




Walrus sekarang berkumpul di dataran rendah.



Dulu mereka melahirkan di laut es, namun karena sekarang serambi itu telah hilang, mereka butuh tempat baru untuk merawat anak-anak mereka.


Setelah beberapa hari berenang di lautan, beruang jantan akhirnya menemukan sebuah daratan.


Tertarik oleh bau tajam yang berasal dari pulau itu.


Saat musim panas berakhir, beruang telah kehilangan setengah berat badannya.



Dengan es yang telah lama menghilang, dia dipaksa ke daratan untuk mencari makanan.


Walrus adalah anjing laut terbesar di dunia. Berat mereka lebih dari satu ton dan dipersenjatai dengan taring sepanjang satu meter.



LANJUTAN

V

V

V


Hari selanjutnya, kabut lautan menutupi pulau tersebut.


Para walrus segera merasakan bahwa mereka dalam bahaya.



Menggunakan kabut sebagai penyamaran, beruang mendekati kawanan tersebut.


Para walrus dewasa bergegas menyembunyikan anak-anak mereka, membuat dinding pertahanan yang kuat dari kawanannya.


Dia mencoba menerobosnya, namun pertahanan walrus tetap tak tergoyahkan.


Sepertinya karnivora darat terbesar di dunia ini telah menemukan tandingannya.


Sang beruang tak menyerah, dia berusaha menemukan celah kelemahan dari kawanan itu.



Walrus betina ini melindungi anaknya,andai saja dia bisa menyingkirkan induknya...


Namun taring dan cakar beruang tak bisa menembus kulit tebal walrus.



Seiring kawanan yang melarikan diri ke air, beruang harus bergerak cepat agar tak kehilangan makanannya.






Gagal dengan satu mangsa, dia segera mencoba dengan calon mangsa lainnya.





Kawanan Walrus hampir semuanya sudah berada di air.


Kesempatan beruang bisa makan lagi sejak berbulan-bulan lalu mulai menghilang.




Dia mulai terlihat putus asa.




Inilah saatnya atau tidak sama sekali. Dia harus menghindari tusukan taring walrus jika dia ingin menang.







Walrus berhasil melepaskan diri dari gigitannya.Sayang sekali ...



Hanya di puncak musim panas, saat beruang berada di ambang kelaparan, mereka menyerang buruan yang berbahaya.


Sebuah pertaruhan berbahaya yang diambil oleh beruang dan dia kalah.


Luka tikaman yang dia dapatkan dari walrus sangat menyakitkan hingga dia tidak bisa berjalan seperti biasanya.


Para kawanan walrus kembali tenang. Sepertinya mengetahui bahwa beruang yang terluka tidak lagi bisa mengancam mereka.





Tidak sanggup untuk mencari makan, beruang ini takkan mampu bertahan hidup.



Jika iklim global berlanjut memanas dan es Arktik mencair lebih cepat setiap tahunnya, pasti akan ada banyak beruang kutub yang bernasib sama seperti ini.

0 Tanggapan Untuk “Kisah Sang Beruang Kutub Menghadapi Global Warming”

Pembaca yang baik selalu meninggalkan jejak ...

Komentar Terbaru

Artikel Terbaru